24
Des
08

Habis gelap terbitkah terang ? (bagian 1)

Introduction :
Sudah menjadi sunatullah (hukum alam) bahwa setelah tenggelamnya matahari di sore hari, akan ada harapan untuk terbitnya matahari itu di pagi hari yang akan menyinari bumi. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal” (QS Ali Imran : 190). Sekelam apapun kegelapan itu, pasti akan menemui titik terangnya.

Mungkin itulah kenapa Sang Ibu Kartini memberikan judul bukunya “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Kegelapan tanpa emansipasi yang mendera kaum wanita saat itu, pasti akan segera berakhir menuju titik terang dimana wanita diperlakukan sesuai harkat dan martabatnya (Sampai saat ini, apakah ini sudah terjadi? Mari kita renungkan bersama). Akan tetapi, inti dari tulisan ini bukanlah untuk merenungkan tentang wanita, sama sekali bukan tentang ini. Kalimat “Habis Gelap Terbitlah terang” seolah menggambarkan kejadian yang terjadi pada diri Azis dalam bulan desember ini. Penasaran G? Nah, kisahnya sebagai berikut ini (baca sampai akhir ya,.. ) :

Rabu, 3 Desember 2008 Pagi
Pagi itu, rutinitas kuliah seperti biasa harus ku jalani. Akan tetapi, jam 7 pagi itu aku ada ujian Sintesis Kimia Organik Lanjut (Beuh, dah lanjut lho, bukan yang biasa lagi, hehe,…) jadi aku yang biasanya baru nyampe kampus jam 7.30 (ngaret datengnya ) harus datang lebih pagi karena G mau ketinggalan ujian. Minggu itu termasuk minggu-minggu penuh kesibukan. Selain karena ada ujian, aku juga harus mempersiapkan makalah untuk salah satu lomba yang akan diadakan di Jakarta untuk hari jumat – selasa minggu depan. Selain makalah, aku juga harus membuat laporan pertanggungjawaban (LPJ) yang akan disampaikan 10 hari lagi (mikirin dari jauh-jauh hari, apa yg mo di tulis ya? Kebanyakan mikir tanpa dilakuin, akhirnya pusing sendiri deh).

Jam 6.40 aku berangkat dari rumah. Motor GL Pro-ku geber pada kecepatan 60-80 Km/Jam dan akhirnya sampai kampus pukul 7 lewat 5 menit. Seperti biasa, petugas parkir yang ramah menyapaku dengan senyum manisnya dan aku harus membayar Rp 500 untuk ongkos parkir. Saat itu, lapangan parkir masih sangat kosong. Saat ku raba saku celana bagian kanan, ku keluarkan selembar uang kertas seribu dan hal yang aneh terjadi, “Lho, kok plastik itu G ada di saku ya? Ah, nanti ku cek lagi deh waktu motor dah di kunci. Kali aja terselip di antara uang-uang kertas seribuan”, begitu kira-kira jalan pikiranku.

Saat motor sudah ku kunci, sambil jalan tergesa-gesa (Ujiannya jam 7 nih, ayo cepetan !!!) aku mencari-cari plastik di kantong celanaku. Ternyata G ada. Aku cari juga di dompet, juga G ada. Ah, kali aja di tas atau keselip di baju yang kemarin. Maka bergegaslah aku ke ruang ujian. Akan tetapi, saat ujian berlangsung pun aku g bisa konsentrasi karena tetap memikirkan kira-kira dimana plastik itu?

Akhirnya ujian selesai dan aku hanya bisa menyelesaikan 90 % soal, dengan tingkat keyakinan benar hanya 50 % (susah nih soalnya). Setelah ujian itu, ku rencanakan untuk membuat makalah untuk lomba hari jumat nanti.

Tapi tetap saja pikiranku G bisa fokus. Dimana sebenarnya plastik itu? Kuliah terakhirku hari itu selesai jam 3 dan selama kuliah itu, aku tetap saja G bisa fokus memperhatikan dosen di depan. Segala pikiran buruk menghantuiku. Bagaimana jika plastik itu hilang? Bagaimana harus ku jelaskan pada ayah? Berapa banyak kesulitan yang akan aku hadapi? Ya Allah, apa gerangan maksud dari cobaan ini?


0 Tanggapan ke “Habis gelap terbitkah terang ? (bagian 1)”



  1. No Comments Yet

Tinggalkan Balasan